Dahulu kala, ada sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo. Di desa tersebut hiduplah sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.

Meski sudah lama menikah, mereka tak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya, Ki Hajar meminta izin kepada istrinya untuk pergi ke Gua Gunung Telomoyo untuk bertapa. Meski berat, Nyai Selakanta pun mengabulkan permintaan suaminya.

…..

Keesokan harinya, Ki Hajar pergi ke Gua Gunung Telomoyo. Saat ini, Nyai Selakanta tinggal sendirian dengan hati yang kesepian.

Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, Nyai Selakanta tetap menunggu, namun suaminya tak kunjung pulang dari pertapaannya. Ia mulai merasa cemas dengan kondisi suaminya.

…..

Suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan kemudian mulai muntah. Ia pun mengira bahwa dirinya sedang hamil. Ternyata dugaannya benar. Perutnya semakin lama semakin membesar setiap hari. Ketika waktunya tiba, ia pun melahirkan seorang bayi. Namun, betapa terkejutnya Nyai Selakanta karena anak yang dilahirkan bukanlah seorang manusia, melainkan seekor naga. Ia tetap menyayanginya dan ingin merawat anaknya meskipun itu adalah seekor naga.

Bayi itu diberi nama Baru Klinthing. Nama ini berasal dari nama tombak milik suaminya yang bernama Baru Klinthing. Kata “Baru” berasal dari kata kata bra yang artinya Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari seorang pendeta. Sedangkan kata “Klinthing” berarti lonceng.

Ajaibnya, meskipun berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara layaknya manusia. Nyai Selakanta merasa takjub dan senang melihat keajaiban ini. Namun di sisi lain, ia juga sedikit merasa kecewa karena akan menjadi hal yang memalukan jika orang lain mengetahui bahwa dirinya melahirkan seekor naga. Untuk menutupi hal tersebut, ia pun berniat untuk mengasingkan Baru Klinthing ke Gua dimana tempat ayahnya bertapa. Tapi sebelum itu, ia harus merawatnya terlebih dahulu sampai dewasa agar dapat menempuh perjalanan menuju ke Gua Gunung Telomoyo yang jaraknya cukup jauh. Tentu saja, Nyai Selakanta merawat Baru Klinthing dengan sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan orang lain.

…..

Waktu terus berlalu. Baru Klinthing telah tumbuh menjadi dewasa. Suatu hari, anak itu bertanya kepada ibunya.

“Bu, apakah aku punya ayah?” tanyanya dengan polos.

Nyai Selakanta tersentak kaget. Ia benar-benar terkejut ketika putranya mengajukan pertanyaan yang tidak terduga. Di sisi lain, tiba-tiba terpikir olehnya bahwa inilah saatnya Baru Klinthing mencari tahu siapa ayahnya. Nyai Selakanta meminta anaknya untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa di Gua Gunung Telomoyo. Ia meminta Baru Klinthing untuk menemui ayahnya secara diam-diam.

“Iya, benar. Ayahmu bernama Ki Hajar. Tapi, ayahmu saat ini sedang bertapa di Gua Gunung Telomoyo. Pergilah menemuinya dan katakan bahwa kamu adalah anaknya,” kata Nyai Selakanta.

“Tapi, Bu. Apakah ayah mau mempercayaiku dengan tubuhku seperti ini?” tanya Baru Klinthing dengan ragu.

“Jangan khawatir, Anakku! Bawalah pusaka tombak ini sebagai bukti,” ujar Nyai Selakanta, “Pusaka itu milik ayahmu.”

“Baik, bu,” jawab Baru Klinthing.

…..

Setelah sampai di Gunung Telomoyo, Baru Klinthing masuk ke dalam Gua dan mendapati seorang pria yang sedang bertapa di dalamnya. Ketenangan pertapa terusik oleh kehadiran Baru Klinthing.

“Hai, siapa itu?” tanya pertapa.

“Maafkan saya, tuan, jika kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan,” kata Baru Klinthing.

Betapa terkejutnya pertapa itu saat melihat seekor naga yang dapat berbicara.

“Siapa kamu dan kenapa kamu bisa berbicara seperti manusia?” tanya pertapa itu dengan heran.

“Saya Baru Klinthing,” jawab Baru Klinthing. “Kalau boleh tahu, apakah ini tempat Ki Hajar bertapa?”

“Iya, saya Ki Hajar. Tapi, bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu sebenarnya?” tanya pertapa itu penasaran.

Mendengar jawaban itu, Baru Klinthing langsung berlutut di depan ayahnya. Ia kemudian menjelaskan siapa dirinya. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya bahwa dia memiliki anak yang berwujud naga. Ketika Baru Klinthing menunjukkan pusaka tombak kepadanya, Ki Hajar pun mulai percaya bahwa pusaka tersebut adalah miliknya. Namun, ia belum yakin sepenuhnya bahwa naga tersebut adalah anaknya.

“Baiklah, aku percaya jika pusaka tombak itu adalah milikku. Tapi, bukti itu belum cukup bagiku. Jika kamu memang benar-benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telomoyo ini!” ujar Ki Hajar.

Baru Klinthing segera melaksanakan perintah tersebut untuk meyakinkan sang ayah. Berbekal kesaktian yang dimiliki, Baru Klinthing berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Akhirnya, Ki Hajar pun mengakui bahwa naga itu adalah anaknya. Setelah itu, ia kemudian memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur.

“Sekarang pergilah bertapa ke Bukit Tugur!” ujar Ki Hajar, “Suatu saat kelak, tubuhmu akan berubah menjadi manusia.”

“Baik, Ayah,” jawab Baru Klinthing.

…..

Benar apa kata Ki Hajar, Baru Klinthing lalu berubah menjadi manusia seperti manusia pada umumnya. Selanjutnya Baru Klinthing segera kembali pulang menemui ibunya.

Ketika ia turun dari gunung, ia menemukan sebuah desa. Desa tersebut sedang mengadakan pesta merti desa yaitu sebuah pesta sedekah bumi setelah panen. Pesta ini akan dimeriahkan berbagai tarian dan pertunjukan seni serta makanan dan jamuan makanan yang lezat untuk para tamu undangan.

Baru Klinthing lalu datang dengan maksud untuk meminta makan dan minuman. Namun karena tidak dikenal dan berpenampilan compang-camping, ia diusir oleh warga desa.

Tiba-tiba Baru Klinthing dipanggil oleh seorang nenek bernama Nyai Latung.

“Hai, anak muda. Kenapa kamu tidak ikut berpesta?” Nyai Latung.

“Semua orang menolak kehadiranku di pesta itu karena mereka jijik melihat saya berpakaian seperti ini,” jawab Baru Klinthing, “Padahal, saya sangat lapar, nek.”

Nyi Latung yang baik hati itu pun mengajak Baru Klinthing ke rumahnya. Nenek itu segera menghidangkan makanan lezat untuk Baru Klinthing.

“Kemarilah, nak. Makan dan minumlah,” kata Nyai Latung.

“Terima kasih, nek.” jawab Baru Klinthing sambil tersenyum.

“Nak, warga desa disini memang cukup angkuh dan sombong. Mereka juga tidak mengundang nenek untuk menghadiri acara tersebut,” ungkap Nyai Latung.

“Kalau begitu, mereka harus diberi pelajaran!” Baru Klinthing kemudian meminta nenek tersebut untuk menyiapkan lesung kayu yang biasa digunakan untuk menumbuk padi. “Naiklah ke lesung ini sampai aku kembali ya nek.”

Baru Klinthing segera kembali ke pesta sambil membawa sebatang lidi. Setiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi itu ke tanah dan memanggil semua warga.

“Wahai warga desa! Jika kalian merasa hebat, cabutlah lidi kecil yang saya tancapkan ini!”

Warga desa yang merasa diremehkan lalu berbondong-bondong mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, tidak ada seorang pun bahkan orang yang paling kuat sekalipun tidak mampu mencabutnya.

“Orang yang berhati jahat tidak akan bisa mencabut lidi ini!”

Dengan mudah Baru Klinthing mencabut lidi yang menancap di tanah tersebut dan seketika itu juga air keluar dari dalam tanah. Tidak butuh waktu lama, desa tersebut tenggelam dan menjadi sebuah danau.

Sementara itu, Baru Klinthing dan nenek yang menolongnya itu selamat dari banjir yang menerjang desanya, mereka berhasil menaiki lesungnya dan sampai di pinggir danau. Desa yang telah berubah menjadi danau itu kemudian dikenal dengan nama Rawa Pening. Rawa Pening ini menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Semarang.

Pesan Moral dari cerita Rawa Pening

Pesan moral dari cerita Rawa Pening adalah hargailah orang lain dan janganlah saling membenci. Jangan pernah hanya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Saling membantu dan saling tolong menolong merupakan perbuatan baik yang patut dicontoh tanpa memandang latar belakang status sosial, agama, asal, dan kondisi fisik orang yang ditolong.

Tinggalkan Komentar