Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan megah bernama Pakuan Pajajaran di daerah Jawa Barat yang dipimpin oleh raja bernama Raja Siliwangi. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan baik hati. Sehingga, rakyatnya hidup bahagia di bawah kepemimpinannya.

Raja Siliwangi memiliki istri bernama Dewi Rembulan dan seorang anak perempuan yang cantik bernama Kandita. Kandita tidak hanya cantik, tapi ia juga memiliki sifat yang sama dengan ayahnya yang bijaksana dan baik hati.

Meski memiliki putri yang cantik, Raja Siliwangi tetap berharap memiliki anak laki-laki. Dia ingin anaknya mewarisi takhtanya. Namun, Dewi Rembulan tidak pernah mengandung lagi.

Alhasil, Raja Siliwangi menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik bernama Dewi Mutiara. Dewi Rembulan tampaknya tidak keberatan. Dia benar-benar menunjukkan sikap yang baik pada istri kedua Raja Siliwangi.

Tak lama kemudian, Dewi Mutiara hamil. Utusan raja, Pandita Agung, meramalkan bahwa anak yang dikandungnya akan berjenis kelamin laki-laki. Mendengar kabar tersebut, Raja Siliwangi pun menjadi bahagia dan tak sabar untuk menyambut ahli warisnya. Setelah beberapa bulan, Dewi Mutiara melahirkan seorang putra yang tampan.

“Walaupun putraku lahir dari rahim seorang selir, aku tetap mewarisi takhta Pakuan Pajajaran yang kelak akan menggantikanku sebagai raja,” kata Raja Siliwangi pada Pandita Agung.

Dewi Mutiara sangat senang mendengarnya. Pilihan Raja juga didukung oleh Kandita dan Dewi Rembulan. Raja Siliwangi merasa kebahagiaanya telah lengkap. Ia memiliki seorang putri yang cantik dan putra mahkota yang akan meneruskan takhtanya.

Dewi Mutiara masih merasa tidak puas meskipun putranya telah diberi gelar putra mahkota. Ia ingin Raja Siliwangi hanya memperhatikan dirinya dan tidak mau membagi perhatiannya dengan Dewi Rembulan dan Kandita.

“Aku tidak bisa terus melakukan ini. Aku tidak bisa menerimanya ketika suamiku bersama Dewi Rembulan. Aku memberinya seorang anak laki-laki. Aku seharusnya menjadi Ratu, bukan Dewi Rembulan. Aku tidak ingin menjadi selir selamanya,” ucap Dewi Mutiara dalam hati.

Dewi Mutiara segera memikirkan cara untuk mengusir Dewi Rembulan dan Kandita dari kerajaan. “Aku harus menyingkirkan Dewi Rembulan dan anaknya dari sini agar aku bisa menjadi Ratu,” gumam Dewi Mutiara.

Pada malam harinya, diam-diam ia mengunjungi seorang penyihir jahat yang tinggal di hutan. “Mbok, aku ingin mengusir ratu dan anaknya agar aku bisa menjadi ratu di kerajaan Pakuan Pajajaran,” kata Dewi Mutiara pada penyihir itu.

“Oh, itu tidak terlalu sulit. Bagaimana jika aku mengutuk mereka menjadi dua orang yang menjijikan sehingga Raja tidak ingin lagi berada didekatnya?” jawab penyihir itu.

“Baiklah. Yang penting, aku ingin Raja berhenti mencintai mereka. Terserah apa pun yang kamu lakukan pada mereka,” jawab Dewi Mutiara.

“Besok malam aku akan datang mengunjungi istana untuk menemui Dewi Mutiara dan Kandita. Kamu tidak perlu khawatir. Keinginanmu segera terkabul. Hahaha,” kata penyihir jahat sambil tertawa.

Selir yang licik itu sangat lega mendengar kata-kata penyihir itu. Kemudian ia memberikan sebongkah emas pada penyihir jahat tersebut. Ia tidak sabar ingin menjadi ratu Raja Siliwangi.

Malam berikutnya, penyihir itu datang dengan kekuatan sihir secara diam-diam ke tempat Dewi Rembulan dan Kandita berada. Kemudian ia merapal mantra untuk memanggil makhluk gaib untuk membantu rencana jahatnya.

Setelah selesai merapal mantra, ia membungkuk dan meniup wajah Dewi Rembulan dan Kandita. Kemudian ia langsung menghilang dari sana.

Tubuh Dewi Rembulan dan Kandita tiba-tiba mengalami borok dan kudis yang mengeluarkan bau busuk. Mereka pun terbangun karena tidak tahan dengan rasa gatal yang tiba-tiba muncul di kulit mereka. Mereka terkejut mengetahui tubuhnya penuh dengan borok.

“Hah, ada apa dengan kulitku? Bagaimana bisa menjadi seperti ini?” teriak Kandita kebingungan.

“Apa dosaku dan anakku, mengapa tubuh kami tiba-tiba berubah menjadi sangat menjijikkan,” kata Dewi Rembulan dengan panik.

Raja Siliwangi tidak tinggal diam setelah mengetahui kabar tersebut. Beberapa tabib dipanggil, namun tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkan istri dan anaknya. Sang Raja sangat sedih dan kecewa. Ia bingung apa yang harus dilakukan sekarang.

Kabar tentang penyakit menjijikan Dewi Rembulan dan Kandita menyebar luas. Ternyata Dewi Mutiara lah yang menyebar luaskkan kabar tersebut di luar istana.

Dia juga meminta orang suruhannya untuk menyebarkan kabar bahwa Dewi Rembulan dan putrinya menderita penyakit yang sangat serius dan menular. Kabar tersebut membuat rakyat di Kerajaan Pakuan Pajajaran panik.

Kemudian, kediaman Raja Siliwangi didatangi oleh seluruh warganya. Mereka meminta Raja Siliwangi mengusir atau mengasingkan ratu dan Kandita agar penyakit tersebut tidak menular ke orang lain. Raja Siliwangi bingung apa yang harus dilakukan sekarang.

“Kami tidak ingin kerajaan dan semua warga tertular penyakit menjijikan itu! Mereka harus segera diusir atau diasingkan dari istana!!” Pinta salah satu warga yang mewakili para warga.

Raja Siliwangi akhirnya memilih untuk mengasingkan istri dan putrinya ke hutan yang jauh karena tidak ingin menimbulkan rasa panik warganya. Suatu pagi, mereka dibawa ke hutan yang jauh dari Kerajaan Pakuan Pajajaran oleh utusan Raja.

Utusan raja berkata kepada mereka bahwa ada tabib yang terkenal dapat menyembuhkan penyakit mereka. Tetapi ketika mereka sampai di hutan belantara, utusan raja langsung meninggalkan mereka begitu saja di sana.

Dewi Rembulan dan Kandita kemudian menyadari bahwa Raja telah mengusir mereka. Kandita terisak tak henti-hentinya meratapi nasibnya.

“Bu, apa yang salah dengan kita? Hanya karena kita tidak cantik lagi, bukan berarti kita pantas dibuang, bukan?” kata Kandita sambil menangis.

“Anakku, tolong jangan menangis. Percayalah, para dewa pasti ada di pihak kita. Kita harus menerima ini sebagai cobaan yang harus kita jalani,” kata Dewi Rembulan mencoba menenangkan putrinya.

Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka ke dalam hutan belantara. Tidak tahu ke mana mereka harus pergi. Sesekali, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun, tubuh Dewi Rembulan semakin melemah dan rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.

Setelah lama menahan rasa sakit dalam waktu yang cukup lama, Dewi Rembulan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan anak kesayangannya. Kandita menjadi sangat sedih karena kini ia tak lagi memiliki siapa-siapa. Hidupnya tidak lagi berarti.

“Ibu, kenapa ibu pergi begitu cepat? Kalau ibu pergi duluan, aku harus bagaimana sekarang tanpa ibu?” kata Kandita terisak sambil memeluk ibunya.

Kandita terus berjalan menyusuri hutan ke arah selatan dengan pikiran yang kosong dan hati yang berduka. Kondisi kulitnya memburuk dan tubuhnya menjadi lebih kurus. Namun dia tidak peduli. Dia menatap kosong saat dia bergerak ke selatan.

Akhirnya, Kandita berhasil sampai ke Laut Selatan. “Lautan!” teriaknya sambil menangis. Saat melihat laut dan mendengar suara ombak, dia merasa sedikit lega dan bahagia. “Seandainya saja aku bisa melihatnya bersama ibuku,” kata Kandita dalam hati.

Kandita tinggal di sana selama beberapa, tepat di Laut selatan. Hingga suatu malam dia mendengar suara dalam mimpinya, “Jika ingin sembuh dari penyakitmu, menyelamlah ke dalam laut.”

Setelah bangun tidur, Kandita terus memikirkan suara dalam mimpinya semalam, “Apakah air laut ini benar-benar bisa menyembuhkan penyakitku? Haruskah aku mencobanya?” tanya Kandita dalam hati.

Setelah beberapa hari, Kandita memutuskan untuk percaya pada mimpinya. “Jika aku meninggal, aku tidak keberatan. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Tapi jika membaik, aku akan mengabdi pada laut ini. Semuanya kupasrahkan padamu, Dewa!” kata Kandita sebelum menyelam ke Laut Selatan.

Setelah ia melompat, ombat menyeretnya ke pinggir laut selatan. Benar saja, penyakit kudis dan boroknya menghilang. Ia sangat senang karena penyakit kulit yang mengganggunya sudah tidak ada lagi. Dan kecantikan wajahnya telah kembali.

Namun, seperti yang telah ia janjikan, setelah sembuh ia akan terus mengabdi di Laut selatan. Ia tidak akan kembali ke istana dan lebih memilih untuk tinggal di Laut selatan dan berbaur dengan para nelayan setempat.

Kandita sangat terkenal sejak ia tinggal di Laut Selatan. Karena kecantikannya, beberapa pangeran dari kerajaan datang untuk memintanya menikah dengan mereka. Tapi tidak ada pangeran yang menarik perhatiannya.

Bahkan, ia sering membuat syarat yang sangat berat. Salah satu syaratnya adalah melawan kesaktiannya di atas ombak laut. Syarat itu membuat para pangeran menyerah mengejar Kandita.

Meski para pangeran menyerah mendapatkan hati Kandita, mereka tetap mengikuti kemana pun sang putri pergi. Sejak saat itu, Kandita disebut sebagai Nyi Roro Kidul atau Ratu Laut Selatan.

Pesan Moral dari Cerita Nyi Roro Kidul

Pesan moral dari cerita Nyi Roro Kidul adalah hargai apa yang kita miliki. Janganlah iri dengan kesenangan orang lain. Jangan menyakiti orang lain hanya untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita tidak akan pernah bisa memprediksi tingkat penderitaan yang akan kita alami. Jaga kesabaran saat menghadapi masalah yang sulit seperti Kandita dan Dewi Rembulan yang tetap bersabar meski menghadapi cobaannya yang berat. Dan pada akhirnya, Kandita berhasil lolos dari cobaannya.

Tinggalkan Komentar

cropped-bercerita-removebg-preview.png

Tentang Bercerita

Bercerita adalah situs kumpulan beberapa cerita dari berbagai budaya di seluruh dunia. Ini adalah blog pribadi yang dibuat oleh Riko Arinda, seorang penulis yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap cerita rakyat dan makhluk mitos.

Email

admin@bercerita.my.id

AxiomThemes © Bercerita. All rights reserved.