Suatu hari, seorang Sultan bernama Meurah menerima kabar tentang keresahan yang terjadi di antara rakyatnya di sebuah desa yang terletak di pinggiran Kuta Raja. Setelah itu, ia segera pergi ke desa untuk mengetahui lebih lanjut tentang keluhan rakyatnya.

…..

Begitu sampai di desa, sultan langsung mendatangi para peternak yang sedang mengeluh.

Salah seorang peternak melaporkan kepada Sultan, “Tuanku, banyak ternak kami hilang saat berada di bukit Lamyong.”

Peternak lain menimpali dan berkata, “Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya.”

“Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah.

“Sudah lama sekali, Tuan. Tepat sebelum hilangnya Ayah Raja Linge Mude,” petani lain menjelaskan.

Setelah diberitahu tentang masalah yang dihadapi desanya, Sultan Meurah kembali ke Istana.

…..

Sesampainya di Istana, Sultan Meurah langsung menghubungi teman dekatnya bernama Renggali. Renggali adalah adik Raja Linge Mude. Tujuan pemanggilan Renggali adalah untuk menelusuri apa yang sebenarnya terjadi pada bukit tersebut.

“Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamyong itu,” kata Sultan Meurah.

“Mengapa ada bukit memanjang disana, padahal rawa-rawa di sekitarnya selalu berair,” sambung Sultan Meurah.

“Menurut penduduk desa, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali.

“Kakak hamba, Raja Linge Mude, pertama kali datang ke Kuta Raja, dia curiga dengan bukit tersebut seolah-olah bukit tersebut memanggilnya,” tambahnya.

“Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan.

Renggali pun pergi ke bukit dan menelusuri setiap jengkal bukit tersebut.

…..

Ketika ia berdiri di atas bukit, tiba-tiba ada suara berkata “Maafkan hamba, putra Raja Linge.”

Renggali terkejut dan berkata, “Siapa engkau?”

Suara itu berkata, “Hamba adalah naga sahabat ayahmu. Panggillah Sultan Alam kemari, nantinya hamba akan memberikan pengakuan”, jawab sang naga yang diikuti dengan suara gemuruh.

Renggali segera kembali ke istana untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Sultan Meurah.

“Itukah Naga yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah dengan rasa heran.

“Mengapa dia ingin bertemu dengan ayahmu? Apakah dia tidak tahu Sultan Alam sudah meninggal?” tambah Sultan Meurah.

Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu.

…..

Sesampai di sana tiba-tiba terdengar suara naga yang disertai suara gemuruh.

“Mengapa Sultan Alam tidak datang?” kata Naga.

“Sultan Alam sudah lama meninggal. Mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami kira engkau telah kembali ke negerimu. Lalu dimana Ayah Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah.

“Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta naga itu.

“Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya.

“Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Ayah Raja Linge,” jelasnya.

Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali.

“Hamba melakukan kesalahan saat Sultan Alam memerintahkan saya untuk memberikan hadiah pedang kepada teman-temannya dan tersisa dua pedang untuk Tuan Tapa dan Ayah Raja Linge. Hamba mengunjungi Ayah Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berencana pergi ke rumah Tuan Tapa untuk mendapatkan obat yang dibutuhkan istrinya. Sesampainya disana, Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Ayah Raja Linge memutuskan juga ikut mengantarkan sapi itu ke pusat Kuta Raja. Di sepanjang perjalanan ternyata hamba tergiur untuk menyantap kerbau tersebut. Hamba lalu mengambil 2 ekor kerbau dan menyantapnya. Kemudian Ayah Raja Linge panik serta mencari pencurinya. Hamba pun memfitnah Kule sebagai pencurinya, Ayah Raja Linge lalu membunuhnya. Dan hamba pun kembali mencurinya kembali, dan begitu seterusnya sehingga Ayah Raja Linge mengetahui kebenarannya. Kami pun berkelahi dan akhirnya hamba membunuhnya. Karena itulah, hukumlah hamba,” kata Naga.

“Lalu, mengapa engkau terjebak di tempat ini?” tanya Sultan Meurah.

“Ayah Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga tubuh hamba menjadi lumpuh. Lalu tusukan Ayah Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang Naga.

“Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba,” pinta Naga.

“Renggali, berilah dia hukuman. Engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah.

“Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali.

“Tidak! Hamba ingin dihukum sesuai dengan apa yang telah hamba perbuat,” pinta Naga Hijau.

“Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah.

Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge. Setelah menemukannya, Renggali menariknya dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga masih tidak mau bergerak.

“Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga.

“Hukuman dari Ayah Raja Linge sudah lebih dari cukup dan putranya sudah membebaskanmu, kembalilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah.

Sambil menangis, Naga itu pun mulai menggerakan tubuhnya dan bergerak ke arah laut. Sehingga terbentuklah sebuah sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Yang pada akhirnya di daerah tersebut diberi nama Alue Naga.

Pesan Moral dari Cerita Alue Naga

Pesan moral dari cerita Alue Naga ini adalah perbuatan tidak baik selalu mendatangkan hal yang tidak baik pula. Kita harus bersyukur atas semua hal baik yang diberikan kepada kita, tidak mencuri dan tidak memfitnah.

Tinggalkan Komentar

cropped-bercerita-removebg-preview.png

Tentang Bercerita

Bercerita adalah situs kumpulan beberapa cerita dari berbagai budaya di seluruh dunia. Ini adalah blog pribadi yang dibuat oleh Riko Arinda, seorang penulis yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap cerita rakyat dan makhluk mitos.

Email

admin@bercerita.my.id

AxiomThemes © Bercerita. All rights reserved.